Cari Blog Ini

Memuat...

Pengurangan Pemain

Kamis, 09 Juni 2011 | 0 komentar


Bila klub lain mencoba menambah pemainnya agar bisa meraih hasil lebih baik pada putaran kedua Liga Primer Indonesia (LPI) mendatang, Minang Kabau FC malah berencana mengurangi para pemainnya. “Pemain kami sudah berlebih. Rencananya akan kami kurangi,” ungkap Lamdelif, CEO Minang Kabau FC.  
Pengurangan pemain akan dilakukan setelah manajemen melakukan evaluasi usai jeda kompetisi, awal Juli mendatang.  “Sekarang para pemain banyak yang sudah pulang. Nanti kalau sudah masuk, kita akan duduk bersama untuk mengkaji pengurangan pemain,” ujar pria asal Pariaman  yang  pernah meniti karier di Badan Penyelamatan Perbankan Nasional (BPPN) itu. 
Di mes pemain di Jalan Raden Saleh, Padang, memang masih ada beberapa pemain yang tinggal. Mereka adalah pemain lokal yang belum berencana pulang.
Menurut Lamdelif, pihaknya nanti akan memberikan ketentuan-ketentuan yang diberlakukan kepada pemain yang akan dievaluasi. Misalnya, mengenai kontribusi yang telah diberikan kepada tim. “Nanti pasti ada hitung-hitungannya. Karena itu, kita pasti akan duduk bersama melakukan evaluasi,” ujar ayah tiga anak ini.
Hasil dari evaluasi itu, ungkap Lamdelif, akan menjadi patokan bagi manajemen untuk mengurangi pemain. Yang jelas, semuanya dilakukan setelah berkoordinasi dengan LPI.
Sementara itu, Januardi Sumka mengakui kalau Minang Kabau FC memang mengalami kesulitan pada awal kompetisi. "Tiga klub terakhir yang dibentuk, salah satunya Minang Kabau FC. Kami terbentuk pertengahan Desember 2010. Manajemen pada awalnya kurang pas, sekarang sudah kita perbaiki," ujar Manajer Tim Urang Awak itu.
Kondisi yang kian membaik membuat manajemen, masih menurut Januardi Sumka,  mematok target Minang Kabau FC berada di papan atas pada putaran berikutnya

Minang forum

Sabtu, 04 Juni 2011 | 0 komentar

Di tengah hiruk pikuk dan kekisruhan Kongres PSSI beberapa waktu lalu, sehingga kongres yang digelar oleh KN ( Komite Normalisasi ) 


yang pimpin Agum Gumelar seharusnya  mampu melahirkan kepengurusan untuk periode empat tahun kedepan, terpaksa ditutup tanpa menghasilkan keputusan. Malahan, sepakbola Indonesia dibayang-bayangi sanksi dari FIFA. Apakah Indonesia akan diberi sanksi oleh FIFA atau FIFA akan bermurah hati dengan meminta dilakukan kongres ulangan?

Euforia sepakbola ada dan dirasaklan dimanapun. Ini tidak dapat dimungkiri. Dari kota sampai ke desa euforia sepakbola selalu bergema di Indonesia. Apalagi di Indonesia ada Liga Super, Liga Devisi Utama, Devisi Satu, Devisi Dua, sampai Devisi Tiga. Malahan, saat ini juga digulirkan liga tandingan dengan lebel Liga Primer Indonesia. Di tingkat desa ada namanya Liga Tarkam atau liga antar kampung, yang tidak kalah meriahnya dibanding liga-liga diatas.

Bagai mana dengan kita di Sumatera Barat? Tidak dapat dipungkiri, dari Ranah Bundo pernah lahir pemain sepak bola besar membela Merah Putih, mulai dari Yus Etek, Suhatmat Imam, Asmawi Jambak, Nil Maizar, Hendri Susilo, Safrudin Kawat, Gusnedi Adang, Yeyen Tumena, sampai generasi sekarang : Alan Marta dan Syamsir Alam dan lainnya.

Generasi sepakbola Sumbar dilahirkan dari sebuah kompetisi mulai dari kompetisi antar kampung, kompetisi antar sekolah, kompetisi antar klub dalam bond perserikatan yang ada di wilayah Sumbar,sebut saja bond PSP, Persepar, Persepak, Persiju, PSBS, PSA sebelum dipecah menjadi dua bond yakni PSKB Bukittinggi dan PSKA Agam, kemudian lahirlah Galatama Semen Padang yang didanai oleh pabrik Semen Padang dan yang teranyar lahirnya Minangkabau FC yang berkompetisi di Liga Primer Indonesia.

Di liga profesional baik ISL maupun LPI klub-klub sumbar selalu berkibar saat ini untuk sementara PS Semen Padang masih bertengger di papan atas ISL, sementara itu Minangkabau FC di papan tengah LPI, sepak bola di Indonesia tuannya adalah PSSI sementara dunia adalah FIFA, namun gegap gempita dan cemerlangnya prestasi PS. Semen Padang dan Minangkabau FC, dimana posisi pengurus PSSI Komda Sumbar dan pengurus PSSI Pengcab-pengcab se Sumbar serta pengurus bond-bond perserikatan se Sumbar dan keterikatannya dengan pemerintah daerah.

Saat ini tidak ada lagi gegap gempita pertandingan antar klub bond-bond yang ada di Sumbar malahan beberapa stadion sepak bola yang tersebar di Sumbar yang dibangun dengan dana milyaran rupiah hanya ada orang bermain sepak bola sekedar hobi tanpa ada sasaran kompetisi yang berujung prestasi diluar stadion H. Agus Salim Padang sebagai home base nya dua Klub yakni Semen Padang dan Minangkabau FC.

Stadion Ateh Ngarai misalnya, pasca gempa bumi tahun 2007 lalu tepi stadion sudah berdiri di bibir jurang ngarai Sianok, belum terlihat adanya keinginan dari Pemko Bukittinggi cq Dinas Pendidikan sebagai pemilik aset untuk berupaya memindahkan atau membangun stadion baru ditempat yang lebih resperentatif.

Stadion ateh ngarai yang dahulunya dikenal dengan stadion PSA pada masa lalu melahirkan pemain-pemain besar berskala nasional sebut saja Asmawi Jambak (ex. Arseto Solo), Hendri Susilo saat ini pelatih Putra Samanrinda di ISL, Syafrudin Kawat ex. PS Bengkulu, malahan dari prestasi bermain bola di stadion ateh ngarai tidak sedikit diantara mereka sekarang sudah menjadi pegawai baik PNS maupun BUMN.

Namun kini walau kondisi lapanggan tidak merana namun sudah tidak layak lagi untuk menggelar sebuah pertandingan sepak bola, karena apabila pemain sepak bola kelepasan nendang bola, maka bolanya akan ditampung oleh ngarai sianok, karena jarak antara bibir ngarai dengan tepi stadion sangat dekat sekali.

Saat ini di stadion ateh ngarai tidak ada lagi teriakan gooooool, dan eforia sepak bola, tidak ada lagi kompetisi sepak bola, bagai mana dengan pengurus PSSI Kota Bukittinggi dan pengurus Bond PSKB Bukittinggi pengurus ada tapi tanpa aktifitas, kalau tidak ada aktifitas, dan kompetisi mustahil akan lahir pemain-pemain sekaliber Asmawi Jambak, Hendri Susilo dan lain-lainnya, akhirnya hobidan bakat-bakat mereka akan terpendam dan semakin terpendam layu sebelum berkembang.

Tidak hanya stadion ateh ngarai yang sepi pertandingan dan kompetisi sepak bola, hampir semua stadion di Sepak bola minus stadion Haji Agus Salim sepi dari pertandingan sepak bola, stadion Poliko Payakimbuh, Stadion PSBS Batusangkar, Stadion Imam Bonjol Lubuk Sikaping (ex. Arena MTQ) stadion M. Yamin Sijunjung walau pada masa recoveri pemulihan gempa Sumbar karena Stadion Haji Agus Salim sedang dalam masa perbaikan sempat dijadikan home base oleh PS Semen Padang dan stadion lainnya di Sumbar. Malahan Stadion Bukik Bunian di Lubuk Basung yang di bangun untuk arena Porprov tahun lalu, usai Porprov maka sepilah stadion.

Uniknya saat ini di sebuah nagari kecil di Kabupaten Agam yang bernama Lawang Tigo Balai Kecamatan Matua, sedang berlangsung kompetisi sepak bola antar jorong yang diikuti 12 kesebelasan dengan pertandingan setengah kompetisi, luput dari perhatian pengurus PSSI atau bond perserikatan daerah setempat.

Tidak ada pembinaan, tidak ada suport baik moril maupun materil, hanya ada semangat oleh pemuda masyarakat dan pemerintahan nagari setempat, mungkin saja dari tarkam itu nantinya akan terjaring bibit-bibit pemain sepak bola potensial, kenapa tidak ada tim pemantau, kalau kita tanya mereka mungkin kita akan mendapat jawaban klise “ waktu belum ada untuk memantau, dana tidak ada atau mereka tidak melapor kepada kami (Pengurus – red) kenapa tidak ada gerakan mengejar bola kenapa hanya ada menunggu bola saja entahlah..”

Saat ini, di mana keberadaan mereka para petingi pengurus PSSI dan Pengurus Bond daerah ini,kalau ada agenda kompetisi devisi tiga maka pengurus kasak-kusuk cari pemain, malahan sampai-sampai mengimpor pemain ke luar propinsi untuk ambisi sebuah kompetisi, atau merengek ke Semen Padang untuk meminta pemain veterannya agar boleh main untuk bond daerahnya.

Melihat kondisi sepak bola Indonesia saat ini yang sudah carut-marut di tingkat pusat dengan gagalnya KN melaksanakan Kongres untuk memilih ketua PSSI periode empat tahun kedepan, sudah sewajarnya dilakukan reformasi sepak bola nasional, mulai dari pusat sampai ke daerah, PSSI dari pusat sampai ke daerah sebagai organisasi kemasayarakatan diyakini menerima dana pembinaan dari pemerintah daerah baik berupa APBD maupun APBN.

Namun yang terjadi selama ini hanya sebuah menara gading kapan wakil dua ratus lima puluh juta rakyat indonesia akan menembus pentas dunia, tergantung kepada seluruh stake holder sepakbola nasional mulai dari pengurus pusat sampai daerah selaku regulator dan pembinaan, pendanaan pemain, penonton, dan masyarakat pencinta sepak bola.

Semoga kekisruhan sepakbola nasional segera selesai dan suara reformasi sepakbola nasional yang disuarakan oleh kaum reformis sepak bola akan menjadi kenyataan tanpa ada kepentingan. Yang ada hanya kepentingan prestasi sepak bola nasional dan akan berimbas kepada sepakbola di daerah sehingga gegap gempita stadion sepakbola di daerah ini kembali bergema seperti masa-masa lalu ------ (ridwansyah pernah menjadi pemain sepak bola)

Hanya demi sepakbola,

Selasa, 31 Mei 2011 | 0 komentar

Padang– Menjadi komisaris sekaligus manajer tim membuat Januardi Sumka harus meluangkan waktunya setiap hari untuk Minang Kabau FC. Apalagi, kesibukannya sebagai anggota DPRD Kota Padang juga menyita banyak waktu.
“Tapi, itu semua saya nikmati saja,” ungkap Januardi Sumka. Menurutnya, menjadi komisaris di PT Padang Minang Sportindo yang mengelola Minang Kabau FC, hanyalah sebagai penonton saja. Sedangkan sebagai manajer tim, ia bisa turun langsung menghadapi persoalan-persoalan di tubuh tim.

“Saya terpanggil untuk masuk dalam manajemen dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Apakah di sini sifatnya sementara atau tidak, saya berusaha untuk bisa menyelesaikan masalah-masalah di tim,” jelas pria kelahiran 1969 ini.
Januardi Sumka mengakui manajer tim merupakan pekerjaan yang luar biasa. Walau sehari-hari menjadi anggota Komisi III DPRD Kota Padang,  dia mengaku telah menyediakan waktu khusus untuk Minang Kabau FC sehari minimal lima jam.  Sepanjang lima jam itulah ia berusaha untuk mencurahkan tenaga dan mengabdi kepada manajemen. “Saya ingin agar Minang Kabau FC bisa menjadi tim yang disegani dan memiliki manajemen yang benar-benar profesional,” tegasnya.
Yang jelas, Januardi  berusaha memenuhi waktu lima jam untuk tim dengan menggunakan waktu-waktu kosong. Bisa dilakukan di tengah-tengah jam kantor maupun usai jam kantor. Apalagi, sebagai anggota dewan tak setiap hari ia harus berada di kantor.  Waktu-waktu luang itulah yang ia manfaatkan untuk menangani klub. 
Januardi Sumka mengatakan, mengurus sepakbola juga termasuk bagian dari tugasnya sebagai anggota dewan. “Mengurusi sepakbola itu kan juga demi kepentingan masyarakat yang hobi bola. Itu juga termasuk konstituen kami,” jelas pria nan ramah ini.
Bagi Januardi, mengurusi sepakbola adalah tanggung jawabnya secara moril. Dan, ia juga tetap mendukung  perubahan di sepakbola nasional.  “ Ini suatu hal yang sangat postiif dan tidak perlu dipertanyakan lagi,” katanya.
Yang kedua, ia ingin mengangkat Minang Kabau FC sebagai tim yang bisa dibanggakan. Apalagi nama Minang Kabau FC sudah dikenal masyarakat Sumatera Barat, termasuk yang ada di perantauan.
“Masyarakat Padang atau Sumatera Barat tersebar di seluruh Indonesia maupun luar negeri.  Orang bilang warung Padang sudah terkenal di mana-mana, sudah go international.  Mungkin kalau orang sudah tinggal di bulan, nanti rumah makan Padang juga buka di situ,” jelasnya.

Papan Atas

Sabtu, 14 Mei 2011 | 0 komentar

Untuk putaran pertama, Minangkabau FC hanya mengincar posisi sepuluh besar. Bertekad untuk tancap gas di paruh kedua dan menargetkan mengakhiri kompetisi di papan atas.

Minangkabau FC mengalahkan tuan rumah Real Mataram 2-1 dalam pertandingan di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, Sabtu (14/5/2011) sore WIB. Ini merupakan kali pertama wakil Sumatera Barat  meraih poin penuh di markas lawan. Pelatih Divaldo Alves mengatakan bahwa kemenangan ini terkait dengan mental pemain.

"Untuk tim Minangkabau, saya bicara kepada pemain: kalau main harus berpikir seperti play-off. Mental mereka harus fokus selayaknya menghadapi play-off. Kita punya dua pertandingan lagi yang penting (termasuk lawan Real Mataram--red). Kalau menang di dua pertandingan ini kita naik ke top sepuluh," ujar pelatih Divaldo Alves kepada wartawan selepas pertandingan.

Sabtu, 02 April 2011 | 0 komentar


PADANG, SO--Tampil di depan publik sendiri, skuad Minangkabau FC sukses memetik tiga poin penting dari tamunya, PSM Makassar di pentas Liga Primer Indonesia (LPI), di Stadion Agus Salim, Sabtu (2/4).

Kemenangan penting Minangkabau FC ini diperoleh melalui titik putih. Eksekutor pun diambil Maurito di menit 65. Melalui tendangan keras terukurnya, Maurito sukses mempecundangi kiper PSM Makassar, Deni Marcel. Gol ini pun disambut gegap gempita pendukung Minangkabau FC.

Memang, sejak kick off ditiup wasit Alexander Calecovic asal Macedonia, skuad Minangkabau FC langsung mengambil peran. Berbagai pola dan serangan dari rusuk kiri dan kanan dilakukan oleh anak asuhan Divaldo Alves ini.

Meski gencar melakukan serangan, namun beberapa peluang gol susah dikonversi menjadi gol. Karena, pemain belakang dan kepiawaian kiper PSM Makassar sangat cemerlang tampil menyelamatkan jalanya.

Namun, dewi fortuna nampaknya berpihak ke tuan rumah. Meski di babak pertama kedua tim bermain imbang 0-0, sebaliknya di babak kedua justru tuan rumah bisa memaksimalkan peluang menjadi gol, meski melalui titik putih.

Sukses mempecundangi PSM Makassar menjadi modal besar bagi Minangkabau FC untuk terus meringsek ke papan tengah LPI.

Dilaporkan : Arief Kamil

Berbagi Angka Dengan Persema

Sabtu, 26 Februari 2011 | 0 komentar

Persema Malang harus puas berbagi angka 1-1 atas tim  Minangkabau FC dalam laga lanjutan Liga Primer Indonesia (LPI) yang digelar di Stadion Gajayana, Sabtu sore. Gol semata wayang Persema yang mampu menjebol gawang Minangkabau FC yang dikawal Agus Murod Alfarizi itu dipersembahkan oleh Han Sang Min melalui sundulan kepala setelah mendapatkan umpan manis dari Muhammad Kamri.

Apresiasi dan dukungan pemerintah provinsi Sumatera Barat

Senin, 21 Februari 2011 | 0 komentar

Sebagai bentuk apresiasi dan dukungan pemerintah provinsi Sumatera Barat terhadap kompetisi LPI (Liga Primier Indonesia) garapan Arifin Panegoro yang sudah beberapa pekan bergulir, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno menyempatkan diri menghadiri laga krusial antara Minagkabau FC menjamu Solo FC di stadion Haji Agus Salim Padang, Minggu (21/2) kemarin.

Thanks

 
© Copyright 2010-2011 MINANGKABAU FC All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.